Featured

The First Challenge and Whatever it Takes

This is the post excerpt.

Assalamualaikum, selamat siang, selamat menikmati siang hari yang sangat sangat “hangat”nya dikelilingi terik sang mentari. Sampe di rumah aja males banget ngapa-ngapain. πŸ‘ΉπŸ‘Ή
Yap, saya Maharani. Usia saya masih 23 tahun saat ini. FYI aja, berat badan saya dari dulu emang belum pernah ideal. BB saya sekarang sekitar 62,5 kg, dengan tinggi 153 cm. Saya menghabiskan hidup selama 23 tahun dengan sedikit lemak membandel di bawah kulit saya. Lantas benar adanya kalo ada pepatah bilang,”because diet always starts tomorrow”. Susah banget ngecilin lingkar paha dan betis nih terutama yang udah jadi keturunan dari nenek moyangnya ibu (read: pembelaan semata). 
Well, akhirnya aku mulai geram. Tanggal 10 Januari 2017 ini, aku dan suami memulai diet Herbalife. BB suami adalah 111,3 kg dengan tinggi 178cm dari usianya yang masih 24 tahun kala itu. Metabolisme pak suami adalah layaknya orang berusia 50 tahun. Gila kan!

You know what? Setelah kita mengikuti Herbalife selama kurang lebih 2 bulan, saya turun 4 kg, suami turun 8 kg. Masing-masing punya mealplan sendiri. Karena setiap orang kebutuhan kalorinya beda beda yaaa! Kalo mau diet yang sehat ya harus diet nutrisi dong. Kurangi kalori, bukan kurangi makan!

Kebutuhan kalori saya adalah 1100 kalori per hari nya. Berarti, jika ada pemasukan kalori lebih dari itu termasuk buah-buahan dan sayuran, apalagi daging-dagingan, tau sendiri lah yaaa jadinya kaya apa. 
Aturan dalam diet nutrisi:

1. Hindari olahan daging sapi, kambing, bebek dan kawan-kawannya termasuk jeroan,

2. Tidak ngemil! Gak ada alasan ngemil termasuk buah atau sayur,

3. Makan sesuai mealplan dan olahraga minimal 3x seminggu

4. Minum AIR PUTIH minimal 5% dari berat badan tubuh. Kalo kamu mulai ngerasa pengen nyemil, segeranya minum air putih sampe kenyang.
MEALPLAN:

1. Sarapan pagi

*aloe vera, teh tanpa gula, kapsul fiber Herbalife

*susu shake+protein+Oat+es batu kalau ada (blender)

(Susu dengan indeks glikemik rendah seperti Herbalife shake, Nutrishake Oriflame, Anlene, atau susu susu rekomendasi low fat)

2. Makan siang

*1 ayam/1 ikan + 1 nasi/1 sayur (1 porsi nasi restoran junkfood/1 mangkok kecil sayur)

3. Makan sore

*susu shake 500 ml (blender)

4. Makan malam

*1 ayam/1 ikan+1 nasi/1 sayur (seperti makan siang)
Karena sudah gatal dengan lemak-lemak bawah kulit yang membandel ini, mari kita bikin tantangan agar aku merasa ada target supaya bisa langsing, lebih bersemangat dan bugar. πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ
1. Challenge: 

*kurangi lemak sebanyak 20 kg dalam 5 bulan

*kurangi lingkar tangan dan kaki.paling tidak 1 cm πŸ˜‚

2. Cara:

*1 bulan pertama jalan kaki setiap 2 hari sekali paling tidak sepanjang 2 km

*Minum air putih sesuai target yaitu minimal 3,2 liter
Lalu sepertinya diet dengan mealplan tersebut akan rutin kami jalankan lagi pas puasa ya… Dikarenakan tabungan yang harus dibikin lebih tebal hihihi. Nah, sekarang mari jangan malas berjalan kaki 🚢

Jangan terlena dengan:πŸ’

1. Pasangan hidup yang setia dan menerima Anda apa adanya

2. Gaji yang besar sehingga bisa memanjakan perut kapan dan dimana saja

3. Kecintaan Anda terhadap keyakinan dan agama Anda bahwa hidup sehat itu gak bakal ditanya di alam kubur

4. Pembelaan bahwa dengan tubuh berlemak, Anda akan terlihat lebih makmur

5. Ibu rumah tangga yang gak ada waktu buat perawatan tubuh termasuk kembali menguruskan badan seperti waktu gadis dulu

6. GENETIKA alias keturunan seperti saya, paha besar, betis besar, lengan besar, dagu nya dobel, muka bundar, pipi chubby

7. Alasan tulang besar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ‘ŽπŸ‘Ž
Sekian untuk hari ini. 
Can’t wait to see how exciting I will be tomorrow. 😊

Run Does Not Mean Run-Away

πŸ’œπŸ’›πŸ’šπŸ’™β€πŸ’œπŸ’›πŸ’šπŸ’™β€πŸ’œπŸ’›πŸ’šπŸ’™β€
Setelah acara pernikahan bubar, aku langsung ikut suami tinggal di Bogor. Rumah kontrakan kami kira-kira tipe 56 LT 100. The land lady asked us to stay at that home forever, it means she and her husband considered and were positive to live in Jakarta. As long as we enjoy live there, just live. So, kita enak aja deh tinggal di situ, juga enjoy banget ngerawat rumahnya. 
Jreng…jreng…jreeeennnggg… baru 2 bulan kami bertempat, tiba-tiba (tiba-tiba banget lewat SMS) the land lord bilang kita harus segera cari rumah kontrakan lain karena mereka harus segera menempati rumah tersebut. Kita hanya diberi waktu kurang lebih 3 hari. Waaahhh… langsung deh kami segera cari. Takdir baik datang dari rumah kontrakan sebelah yang orangnya udah mau keluar. Tipe 21 dan masih milik the land lady and lord itu tuh. Oke, baiklah, kami pindahan. 
Perasaan seperti diusir selalu menjadi trauma kami. Selain itu, orang macam saya yang lebih banyak menghabiskan waktu banyak di rumah juga masih suka jadi perbincangan ibu-ibu lain yang sudah saling akrab. 

“Di rumah terus ga pernah keluar.”

“Kok kamu udah jarang main sama aku?”

“Suaminya kerja di tempat bonafit, tapi kok gak sanggup beli rumah.”

“Udah 3 bulan nikah kok belum hamil sih? Si itu aja udah, si ini juga udah, si dia juga udah. Ayo dong jangan mau kalah sama temen-temennya. Jangan mau kebalap.”


Nah, sodara-sodara, tulisan yang saya bold tersebut merupakan pernyatan yang sering dilontarkan ibu-ibu atau bapak-bapak kurang piknik πŸ˜„
Welcome to Indonesia! Dimana kesuksesan pernikahan adalah diliat dari cepat atau tidaknya hamil setelah nikah. Booooooo! Loseerrr! πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„
Kalo hanya sekadar bertanya sih gapapa ya. Wajar. Manusia. Kepo. Wartawan aja kepo, dibayar. Tetangga pada kepo, puas. πŸ˜„
Paling parahnya lagi kalo udah bawa-bawa fisik,”gimana sih? Gede badan doang, tapi ngehamilin bini kaga bisa!” You know what? Itu yang ngomong bapak-bapak. Jadi tidak menuntup kemungkinan bahwa pria yang terlihat cuek pun juga bisa kepo dan super “njiiirrr” hahaha.
Awalnya, kami cuek dan ga terlalu ngebet ya soal anak. Tapi karena manusia-manusia kurang piknik yang banyak bersarang di sekitar rumah kontrakan saya tersebut, kita berdua jadi seperti ngoyo untuk segera memilikinya. 
Tapi tapi tapi… syukurnya kita cepat sadar, semua kegilaan tersebut, adalah salah kita. Masalah ada di kita yang kurang bisa kontrol emosi dan kurang cuek. Baik, mari kita analisa:

Masalah: kurang bisa cuek, labil, mewekan

Solusi: cari rumah kalo bisa di perumahan yang orang-orangnya cuek dan kaya akan piknik, jadiiii jadiiii, gak ngurusin orang lain terus. πŸ˜„

Kenapa: karena perbuatan itu virus yang lambat laun menjadi sistem. Jadi kalo salah, tapi karena sudah biasa, akan jadi sistem. Biasa dengan yang salah, itu virus! Jadi harus diobati. Persetan dengan orang-orang yang gak ketularan. Mereka antibodi nya pake semen bikinan suami ane, jadi kuat wakakakk.

Langkah: secepatnya pergi dari lingkungan tersebut.

β€πŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œβ€πŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œβ€πŸ’™πŸ’šπŸ’›πŸ’œβ€

We find it! Rumah kami, cicilan bank konvensional, tipe 48 LT 96, selama 15 tahun. Meskipun dibilang cukup terpaksa melakukannya, gak apa-apa. Yang penting kita pergi dari lingkungan itu πŸ˜„

Berasa kaya tinggal di Chernobyl wakakak.

Yeaaayyyy…. I feeeellll freeeeeee πŸ’žπŸ’–πŸ’…πŸ’ͺπŸ’†πŸ’‡πŸ‘°πŸ‘ΈπŸ‘Ό

Sumpah yaaaa… Enak banget tinggal jauh dari keramaian, keramaian yang gak penting. Wakakakak. 

Ya, selera beda-beda ya. Pendapat itu hak. Terserah orang mau berpendapat apa, tak kan kita biarkan kalo sampe merebut kebahagiaan kita seperti kemarin. Gara-gara mulut semua bisa terbunuh. Sebab hati yang tak menerima itulah pula tunas dari kebencian. Itulah sebabnya kita memilih pergi. Karena kita ingin baik-baik saja, elegant-elegant saja, lucu-lucu saja, berdua-berdua saja πŸ˜ŠπŸ’‘

Aku juga tidak suka ketika aku berkunjung ke lingkungan lama, selalu disindir perihal,”kenapa gak kerja aja? Sayang ilmunya. Belum punya anak juga. Mendingan kerja. Gak diem aja di rumah. Ih kata saya mah eman-eman”
Sooooo, whaaaatttt?
Aku thoat suami, bukan thoat tetangga. Aku bahagiaaaaa. Aku bersyukur. Aku menerima. Kita menjalani, tak pernah ada konflik. Lantas, aku harus balas apa omongan-omongan seperti itu?
Diam lebih baik. Aku cuma kasih prengesan kuda hehehe, terus pergi berlalu kaya kentut di depan muka orang itu. Abis, gak ngaruh sih mau kita jelasin kaya apa juga.
 
Gak perlu klarifikasi, gak perlu penjelasan, gak perlu cerita, gak perlu curhat, hidup kita bukan TalkShow. Setuju? πŸ‘¨β€β€οΈβ€πŸ‘¨

From Zero and Becoming Zero

Setelah kami menikah, dimana kami berucap tentang janji-janji suci kami, di saat itulah kami selalu hidup bahagia dan rukun. Bahagia buat kami adalah bukan semata-semata selalu ceria dan bahagia, atau menikmati segala pemberian dan anugerah yang sudah ditakdirkan. Tapi bagaimana saya dan suami bisa melewati setiap detail hari di pernikahan kami yang ceritanya tak sesering senang. Melewatinya pun bukan sekadar lewat, tapi dengan gairah dan optimisme yang dibangun dan diciptakan oleh kami sendiri. Rukun bagi kami adalah dimana sebenarnya mungkin kami tak sepaham, tapi kami bisa saling memahami dan menerima dengan sepenuh hati mengapa kami berbeda. Dan pada akhirnya perbedaan itu benar-benar lebur, menjadi kesamaan yang jelas. 
Sejak menikah dengannya pula lah, aku sudah melupakan siapa aku dulu ketika belum menjadi nyonya. Aku nyaris tidak pernah membahasnya dengan siapapun. Susah kemana saja, sudah jadi apa, sudah menjabat apa, sesibuk apa, setenar apa, secemerlang apa, aku sudah hampir lupa. Aku adalah angka nol yang sedang dibentuk oleh pernikahan ini. Aku bukan siapa-siapa. He is married to nothing girl, but I am married to an engineer.
Dia sudah memintaku untuk menjadi full-timer di rumah, selalu memberikan senyuman di depan pintu (read: kamar) ketika dia pulang kerja. 😝 

Saya pun sangat bersedia menjadi seperti itu. 

My Marriage Life is Super Confusing Another part. I

Cerita bahagia insani bagaikan novel-novel islami yang lagi nge-trend di dekade ini. Serasa princess dalam dongeng Disney. Lulus dengan predikat cumlaude, menjadi speaker saat wisuda universitas dilanjut ijab qobul di malam hari setelah wisuda. Di malam hari 31 Oktober 2014 itulah pertama kalinya kami bersentuhan. Di tanggal 9 November 2014 acara resepsi pernikahan (lebih kayak acara sunatan sih sebenernya πŸ˜‚) diadakan di rumah ibuku. Yaaaa…buat pantes-pantes aja lah. Barangkali ada yang nanya kita orang udah nikah belum.
πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’
Kami masuk ke dalam rumah sewaan kami (read: kontrakan wakakak). Lalu benda pertama yang aku lihat dan sekaligus membuatku gemas di rumah itu adalah motor laki Yamaha Byson hitam lurik-lurik merah dengan helm super safety yang laki banget. “Waahh… ini mot…”

He turned me into his face, and kissed me, well, for the first time. Oooooo 😱kaya gini ya rasanyaaa… oke, asin πŸ˜‚
He carried and put me on to the kitchen table. Aaannndddd… the end.
πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—

About my husband
πŸ‘·
Si bos. Engineer di perusahaan semen terkenal dan nomor 1 di Indonesia, preett. Karena kokoh dan terpercaya 😎
Begini, si bos ini kerjanya shift. Kerja shift itu gak peduli tanggal merah atau hari besar nasional atau keagamaan, kalo ente mau libur, ya ambil cuti buat kumpul sama keluarga. Jadi cuti ente ane cur 1 hari. Kalo masuk dihitung lembur, tapi memang kalau saat tanggal merah memang lg kena shift, ente mau kerja ya monggo, diitung lembur. So, don’t interupt our little shit sacred lives! Mari kita ketahui.
Ada 3 shift. Shift pagi (A) 2 hari, sore (B) 2 hari, dan malam (C) 2 hari, dilanjut libur (H=holiday) 2. Jadi dalam seminggu kami punya 8 hari! Ingat! Delapan, bukan 7 kaya orang-orang lain. Begitupun aku, kebiasaan akan sistem shift, membuatku terbiasa dengan hari dan liburan yang tak menentu. 
Masih belum ngerti? Baiklah, begini.

Senin & Selasa shift A.

Rabu & Kamis shift B.

Jumat dan Sabtu shift C.

Minggu dan Senin, H means Holiday.
Nah, berarti, shift A dimulai pada hari? Selasa! Ya, benar!

Selasa & Rabu shift A.

Kamis & Jumat shift B.

Sabtu & Minggu shift C.

Senin & Selasa, Holiday again.
Artinya, peluang kami untuk memiliki liburan normal di Sabtu dan Minggu layaknya manusia normal adalah setiap 8 minggu sekali atau 2 bulan sekali. 
Nah, jadiii…kalo misalnya masih ada yang nanya,”libur mas?”, atau,”gak kerja mas?”, atau,”cuti mas?” di hari biasa ke si bos, maap kita cuma bisa nyengir sambil ngebatin,”bolot lu, ah…” πŸ˜₯

Ataaauuu…

Kalo masih aja ada yang nanya,”mas Willi lembur mba? Kok Minggu kerja?”, atau,”wiihh enak dong duitnya banyak Sabtu Sabtu gini masuk.” atau,”tanggal merah kok masuk? Wah, rajin banget!”, atau,”lagi pilkada kok kerja? Loyal perusahaan banget yaa!”
Aku cuma bisa nyengir dan ngebatin,”au ah gelaaapp” 😌